MARI BERBENAH

Sebelum membahas, saya terlebih dahulu mengucapkan ikut turut berbelasungkawa atas terjadinya bencana tsunami di selat sunda yang menyebabkan beberapa daerah di banten dan lampung selatan terkena dampak. Semoga korban-korban yang masih belum ditemukan, segera ditemukan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan aamiin.

Di tahun 2018 ini kita semua khususnya di Indonesia mengalami bencana-bencana yang cukup besar sehingga dari bencana-bencana itu kita bisa mengambil pelajaran. Di akhir bulan Juli hingga akhir Agustus 2018 Lombok mengalami bencana alam berupa gempa bumi yang cukup besar dengan gempa susulan yang begitu banyak. Gempa bumi di Lombok ini tidak sekali besar langsung selesai namun dengan berjarak seminggu ada gempa yang kekuatannya lebih besar atau lebih kecil sedikit dari sebelumnya. Belum selesai gempa bumi di Lombok, bulan September di Palu, Donggala, dan Sigi mengalami bencana alam yang begitu besar besar juga berupa gempa bumi disertai tsunami dan likuifaksi. Pada hari itu Palu digoncang gempa bumi terlebih dahulu selama 3 kali dengan jarak waktu yang tidak lama dan kekuatannya selalu mengalami peningkatan terus. Setelah gempa ketiga, tsunami pun datang menghantam. Kabar terjadinya tsunami pun masih simpang siur sebab terkendala sinyal untuk mengabarkan. Akhirnya, setelah beberapa jam baru ada breaking news di media-media yang memberitakan bahwa telah terjadi tsunami. Keesokan harinya di berbagai sosial media ada video yang memperlihatkan pada saat gempa bumi beberapa rumah seperti bergerak atau berjalan. Ternyata fenomena lama tersebut benar adanya yaitu likufaksi, yang menyebabkan beberapa rumah bergerak atau berjalan dan tertimbun. Gempa bumi Lombok dan Gempa bumi disertai Tsunami dan Likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi masih kita ingat, 3 bulan tepatnya pada bulan Desember baru-baru ini terjadi Tsunami di Selat Sunda. Tsunami ini benar-benar tidak terprediksi sebab biasanya sebelum terjadi tsunami terdapat gempa-gempa terlebih dahulu seperti di Palu, namun pada kali ini tidak ada sama sekali gempa. Setelah diselidiki penyebab tsunami tersebut diduga akibat erupsi gunung anak krakatau yang menyebabkan longsornya sebagian dinding gunung rakata dan longsornya bawah laut.

Dari ketiga bencana yang cukup besar tersebut yang sudah saya jelaskan diatas kita banyak mendapat pelajaran bahwa masih kurangnya mitigasi bencana, kurangnya sosialisasi, kurang pedulinya kita bahwa Indonesia ini adalah "ring of fire", serta alat pendeteksi gelombang tsunami yang sudah dipasang di beberapa laut di Indonesia namun ada yang tidak terawat dan ada yang diambil oleh beberapa oknum dari nelayan. Dari beberapa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari ketiga bencana tersebut sudah saatnya kita berbenah bukan hanya pemerintah namun seluruh masyarakat juga ikut berbenah mungkin kita tidak bisa membuat bencana itu tidak terjadi lagi namun yang kita buat adalah memperkecil dampak dari bencana tersebut.

Perbenahan tersebut bisa diawali dari diprioritaskannya mitigasi bencana atau tanggap bencana tersebut lalu disosialisasikan lah daerah mana yang memiliki rawan bencana sehingga bangunan-bangunan yang ada di daerah tersebut dibuat agar tidak mudah runtuh, selanjutnya bangunan-bangunan yang berada di pinggir pantai seharunya berjarak berapa meter dari bibir pantai sehingga jika terjadi tsunami tidak berdampak besar dan juga mungkin diberikan pelatihan-pelatihan atau informasi-informasi beberapa website atau aplikasi android terkait seismik sehinnga jika grafik seismik nya tinggi maka diharapkan waspada atau siaga seperti itu serta penambahan-penambahan alat pendeteksi gelombang tsunami yang bisa memberikan peringatan dini secara cepat dan tepat, penambahan-penambahan tersebut juga harus diikuti dengan perawatan agar tidak rusak dan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di pinggir pantai agar tidak mengambil atau mencuri alat pendeteksi tersebut.

Semoga Indonesia tetap aman.

Comments

Popular posts from this blog

PENTINGNYA KOMUNIKASI DALAM KESEHATAN

hai

SAMPAI JUMPA